Apakah Covid19 Mengakhiri Karir Travel Blogger, Travel Vlogger Dan Travel Influencer?

Seperti yang kita tahu, Virus corona atau Covid19 ini sedang memporak-porandakan banyak hal, termasuk industri pariwisata. Pesawat banyak yang tidak terbang, transportasi umum terhenti, hotel sepi dan tempat wisata tidak dikunjungi. Bagaimanapun juga, berjuang untuk tetap sehat dimasa pandemi adalah yang utama. Traveling, jalan-jalan jalan atau berwisata bisa nanti-nanti, asal kita tetap sehat.

Ya. Sebelum saat ini, seakan banyak manusia berlomba-lomba untuk bepergian mencari tempat wisata baru yang eksotis nan tersembunyi. Stasiun, Terminal dan Bandara rasanya tak pernah sepi dari penghuni. Ratusan, bahkan ribuan traveler bepergian setiap hari. Tidak ketinggalan, para Travel Blogger, Travel Vlogger dan Travel Influencer berlomba-lomba membuat konten traveling untuk menginspirasi para pengikutnya di sosial media.

Kini, semua berubah seratus delapan puluh derajat. Tak ada lagi promosi dari Travel Agent, yang ada refund pembatalan tiket. Sosial media hanya berisi repost konten lama, stock footage atau bahkan mulai jarang diupdate karena stok konten traveling makin menipis. Mau berburu konten baru pun tidak bisa, karena virus corona masih bertebaran diluar saja. Yang tidak mau menyerah, mulai beradaptasi dengan membuat konten diluar traveling. Seperti yang saya lakukan, mulai rajin menulis di bloggerpi.com ini.

Dari sini, saya mulai berpikir. Sampai kapan hal ini terjadi? Apa yang terjadi pada karir para Travel Blogger, Travel Vlogger dan Travel Influencer pasca pandemi? Yang pasti, kondisi pasca pandemi covid19 tak akan sama lagi. Terutama, perjalanan lintas batas antar negara akan berbeda. Lihat saja sekarang, perjalanan antar kota saja sudah seabrek ribetnya. Yang pake masker lah, social distancing lah, dan segalam macam protokol kesehatan lainnya.

Traveling Pasca Pandemi Akan Benar Benar Berbeda

Traveling Pasca Pandemi Akan Benar Benar Berbeda.
Traveling Pasca Pandemi Akan Benar Benar Berbeda.

Melihat kondisi sekarang saja, saya bisa memprediksi, perjalanan setelah ini akan benar benar berbeda. Apalagi untuk perjalanan lintas negara. Mungkin saja setelah ini, untuk mendapatkan visa suatu negara harus melampirnya surat keterangan sudah vaksin Covid19. Itu juga kalau vaksin sudah ditemukan dan dibuat. Kalau belum bagaimana? Saya belum tahu, karena belum ada jawaban pastinya.

Terlebih lagi, dari beberapa berita yang saya baca seperti disini, vaksin Covid19 ini paling cepat tersedia sekitar lebih dari satu tahun atau bisa lebih lama. Anggap saja vaksin Covid19 bisa dibuat lebih cepat sekitar 1 tahun, itu artinya bakal tersedia sekitar pertengahan tahun 2021. Sementara itu, untuk distribusinya apa bisa cepat? Plus waktu distribusi vaksin, tentu akan lebih lama lagi.

Itu artinya, perjalanan traveling pada kondisi “New Normal” baru bisa terjadi setelah tengah tahun 2021, atau bisa lebih lama lagi. Kalaupun pemerintah Indonesia mempersiapkan kondisi New Normal meski vaksin belum ditemukan, apa iya orang berani jalan-jalan padahal Virus Corona masih bertebaran dijalan? Saya sih enggak mau jalan-jalan tidak penting sebelum ada vaksin. Buat saya, kesehatan itu lebih mahal dari apapun. Saya lebih memilih istirahat dulu dari Travel Blogger aktif sampai kondisi kembali normal atau sampai vaksin bisa ditemukan dan Virus Corona bisa ditahan.

 

 

Sebelum kondisi itu terjadi, mungkin saya bakal bekerja di rumah sebagai petani dan peternak ikan di desa, atau fokus ke ternak blog yang membahas topik selain traveling seperti bloggerpi.com ini. Pokoknya, buat saya kesehatan itu harga mati, tidak bisa ditawar lagi. Toh yang namanya tempat wisata gak akan kemana-mana. Asal dunia tetap damai, dan Virus Corona bisa diredam, kita masih bisa traveling lagi. Lebih baik, sekarang bersiap diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi.

Apakah Covid19 Bisa Mengakhiri Karir Travel Blogger, Travel Vlogger Dan Travel Influencer?

Apakah Covid19 Bisa Mengakhiri Karir Travel Blogger, Travel Vlogger Dan Travel Influencer?
Apakah Covid19 Bisa Mengakhiri Karir Travel Blogger, Travel Vlogger Dan Travel Influencer?

Oke, anggap saja kita baru bisa mulai traveling dengan “New Normal” setelah vaksin ditemukan. Itu artinya bisa di akhir 2021, atau malah di tahun 2022 kondisi “New Normal” beneran bisa terjadi. Lantas, apakah itu artinya karir para Travel Blogger, Travel Vlogger Dan Travel Influencer bakal tamat? Jawabannya bisa iya, bisa juga tidak. Karena yang namanya manusia kan bisa beradaptasi.

Namun, kalau dibilang Travel Blogger, Travel Vlogger dan Travel Influencer terdampak berat karena Virus Corona memang iya. Jadi yang merana karena Covid19 ini bukan cuma ojek online saja ya. Meski tidak terlalu terdengar, para pelaku pariwisata ini sangat berdarah-darah karena virus ini. Dampak tidak langsungnya sangat kerasa. Bukan cuma bagian transportasi, akomodasi, tour dan travel, namun juga yang berhubungan dengan pemasaran.

Seperti Travel Blogger, Travel Vlogger Dan Travel Influencer juga merasakan kesulitan ini. Mereka ini rentan, tapi tidak terlalu kelihatan. Kalau gak percaya, bisa dilihat perbandingan data penghasilan dari iklan salah satu website saya pada rentang waktu yang sama dibawah. Ini adalah data pendapatan iklan Google Adsense pada rentang waktu tahun 2018-2019 dibandingkan dengan tahun 2019-2020. Silahkan dilihat betapa turunnya pendapatan iklan untuk blog dengan topik pariwisata setelah kasus positif Virus Corona diumumkan di Indonesia. Saya rasa, sedikit banyak ini juga bisa mengambarkan kondisi Industri Pariwisata sekarang ini.

Bahkan penghasilan iklan di Youtube juga ikutan terjun bebas seperti saham tak lama setelah pasien positif corona diumukan di Indonesia.
Bahkan penghasilan iklan di Youtube juga ikutan terjun bebas seperti saham tak lama setelah pasien positif corona diumukan di Indonesia.
Adsense pada rentang waktu yang sama tahun 2018-2019
Adsense pada rentang waktu yang sama tahun 2018-2019
Adsense pada rentang waktu yang sama tahun 2019-2020.
Adsense pada rentang waktu yang sama tahun 2019-2020.

Bisa dibilang, para pelaku pariwisata ini termasuk yang paling terancam kehilangan penghasilan. Bahkan mungkin sampai setelah vaksin Covid19 ditemukan. Proses recovery industri pariwisata mungkin akan memakan waktu yang cukup lama. Mengingat kondisi perekonomian juga sedang turun. Orang tentu akan berpikir dua kali untuk mengeluarkan uang pada kebutuhan sekunder seperti traveling dan jalan jalan. Jadi bisa dianggap, nantinya banyak orang yang akan melupakan dulu sementara kebutuhan sekunder yang mengeluarkan banyak uang. Tentunya, kebutuhan pokok seperti makan dan kebutuhan sehari-hari akan lebih diutamakan.

Kalaupun orang mau traveling lagi, mungkin cenderung memilih destinasi perjalanan domestik di Indonesia saja. Alasannya, karena mungkin setelah ini persyaratan perjalanan lintas batas antar negara akan lebih susah. Selain itu mungkin akhir pandemi setiap negara akan berbeda. Misalnya, jika Virus Corona di Indonesia belum reda, apa kita akan diijinkan mengunjungi negara yang sudah hilang virusnya?

Sekarang saja, selama Pandemi Corona, sudah ada 68 negara larang masuk WNA termasuk Warga Negara Indonesia. Bayangkan kalau pandemi di Indonesia selesainya lama? Begitu juga sebaliknya, seharusnya secara teori Pemerintah Indonesia akan melarang pengunjung datang dari negara yang belum hilang virusnya. Jangan dibiarkan begitu saja. Meski pada prakteknya tergantung kebijakan para penguasa sih.

Kalaupun kita bisa masuk ke suatu negara, mungkin peraturan seperti wajib karantina selama 14 hari sebelum bisa bebas berkeliaran akan diberlakukan. Apa ya enak traveling yang model gitu? Dikarantina dulu sebelum jalan-jalan? Tentu saja biaya traveling bakal membengkak kalau peraturan seperti itu diberlakukan terus sampai virus benar-benar hilang. Lagian, memang cuti tahunan ada berapa? Dipakai karantina saja mungkin bakal habis, atau bahkan kurang.

Karena itu, ketika kondisi “New Normal” ini sudah bisa berjalan, kemungkinan destinasi wisata domestik akan lebih disukai. Prediksi saya, mungkin Jogja dan Bali akan semakin ramai dengan turis lokal. Selain karena murah, sejak dulu dua destinasi ini memang sudah terkenal. Lalu destinasi pariwisata lokal juga akan dicari. Seperti misalnya saya yang tinggal di Blitar, pantai-pantai dan beberapa tempat wisata di dekat rumah akan banyak dicari. Karena untuk berlibur ke tempat wisata tersebut tidak akan mengeluarkan banyak biaya. Terlebih lagi, tempat wisata tersembunyi yang sepi makin dicari, demi penerapan social distancing yang maksimal.

Namun yang pasti, sampai masa akhir pandemi, para Travel Blogger, Travel Vlogger Dan Travel Influencer ini harus bisa beradaptasi, bertahan hidup entah bagaimanapun caranya. Tantangan buat mereka memang besar pada kondisi pandemi dan sesudahnya. Saya sendiri beradaptasi dengan aktif menulis di bloggerpi.com ini, juga mulai menjajakan jasa sebagai konten writer dan jasa pembuatan website. Atau bisa jadi, saya bakal banting setir jadi programmer lagi sampai bisa kembali aktif sebagai travel blogger seperti sedia kala. Pokoknya, apapun saya lakukan untuk bertahan pada kondisi seperti sekarang ini.

Lalu, apakah Covid19 ini akan mengakhiri karir Travel Blogger, Travel Vlogger Dan Travel Influencer? Buat saya sih enggak, karena menjadi konten kreator dan Travel Blogger bukan hanya sebuah pekerjaan. Tapi sekarang ini sudah menjadi sebagian dari hidup saya. Selama masih mampu, saya akan terus berjalan dan mencatatkan kisah perjalanan tersebut di travel blog saya catperku.com, channel youtube saya youtube.com/catperku dan membagikannya di media sosial yang saya kelola. Yang pasti, harus tetap semangat, sampai pandemi berakhir! Yosh!


fahmi@bloggerpi.com

[email protected]

Penggunaan foto atau pengutipan dari Bloggerpi.com diperbolehkan, asal disertai dengan linkback aktif. Jika ditemukan penggunaan foto atau pengutipan tanpa linkback ke Bloggerpi.com, akan beresiko dihapus oleh google lewat pelaporan DMCA. Bloggerpi.com dilindungi oleh DMCA.
https://catperku.com


Comments

  1. kalo menurutku, industri travel menjadi yang paling pertama terdampak, tapi juga paling pertama bangkit, mas.

    ya gimana, orang pada jenuh nggak bisa ke mana-mana, begitu semua selesai, (meski nggak semua) yakin banyak yang langsung traveling ke mana-mana.

    yang penting berkarya terus, kemungkinan nanti bakal naik sendiri. ketika orang udah jenuh di rumah, nggak bisa ke mana-mana, paling mungkin cuma baca-baca blog atau vlog buat inspirasi nanti kalo udah kelar mau ke mana.

    semangat buat kita semuaaa

    1. bener, tapi yang jadi masalah, ada berapa pelaku industri pariwisata yang bisa bertahan untuk “tidak aktif” sampai ada vaksin atau kondisi normal yang diperkirakan bisa sampai 1 tahun lebih? Untuk rute luar negeri pasti lebih lama lagi. Untuk wisata domestik nih kemungkinan bangkitnya lebih cepet. tetep semangat!

  2. Kalo pariwisata kemungkinan akhir Juni sudah pada buka dengan ketentuan mematuhi protokol, besok menghadiri kategori ini hiburan dan wisata tapi untuk DKI. Seperti akan dibuka gak lama lagi

  3. Sebagai pelaku usaha wisata, memang terasa banget dampaknya. Sejak Maret 2020 hingga saat ini tidak ada pemasukan sama sekali.

    Tapi saya masih ikhtiar dengan terus posting2 berkaitan traveling di website travel saya. Saya masih berharap, Corona akhirnya dapat dikalahkan oleh usaha dan do’a banyak orang.

Leave a Reply