Penegakan Peraturan Melempem, Atau Kesadaran Masyarakat Mematuhi Peraturan Yang Kurang? Menurut Kamu?

Hari ini, saya membaca sesuatu yang menarik, dari sebuah status di facebook, kurang lebih isinya seperti dibawah ini :

Tak perlu waktu yang saya perlukan untuk membaca dan memahami maksud dari status di facebook tersebut. Saya mengangguk, rasanya yang disebutkan pada bagian ini ada benarnya juga.

“Apakah orang Indonesia tidak disiplin? Coba suruh ke Singapura, langsung tertib gak merokok sembarangan, gak meludah sembarangan. Suruh ke Australia mana berani nguber lampu merah, bawa anak naik mobil tanpa car seat dan seatbelt.”

Berkaca dari pengalaman saya sendiri, memang kalau di negara maju yang peraturan ketat, mau gak mau saya akan dipaksa untuk teratur ikut aturan. Mana berani saya melanggar peraturan yang hukumannya adalah denda dengan nilai yang cukup besar. Saya pernah sekali kena denda di Australia karena parkir mobil di tempat yang salah.

Dendanya adalah AUD 250 atau sekitar IDR 2.500.000, ditagih langsung dengan mengirim surat denda ke alamat rumah. Jadi nggak ada yang namanya salam damai atau salam tempel. Sebuah nilai yang cukup besar untuk kurs rupiah yang lemah. Untung saja itu adalah mobil sewaan, yang nyewa 5 orang. Jadi seorang patungan AUD 50 untuk membayar denda. Jadi lebih ringan, namun tetap saja AUD 50 bisa buat beli cilok sekeranjang. Atau bahkan lebih?

Soal kedisiplinan bule, atau orang asing, apakah mereka lebih disiplin dari orang Indonesia?
Soal kedisiplinan bule, atau orang asing, apakah mereka lebih disiplin dari orang Indonesia?

Soal kedisiplinan bule, atau orang asing, apakah mereka lebih disiplin dari orang Indonesia? Bisa iya bisa enggak. Sebenarnya tergantung masing masing orang. Namun kadang mereka para bule ini bisa menjadi liar karena peraturan yang tidak bisa ditegakkan. Seperti yang disebutkan pada status facebook yang saya kutip ulang dibawah ini :

“Lalu apakah orang Singapura lebih disiplin? Coba suruh ke Batam, langsung bebas mau melakukan apapun juga. Orang Australia ke Bali, naik motor gak pakai helm.”

Soal orang Singapura yang ke Batam, saya tidak bisa berkomentar, karena saya belum pernah berkunjung ke Batam. Namun bule Australia yang jadi “liar” ketika liburan ke Bali, sedikit banyak saya tahu sendiri. Karena saya cukup sering pergi ke Bali, dan menemui kelakuan para bule yang kadang bisa diluar “normal”. Gak percaya? Untuk beberapa contoh kasus yang terjadi di Bali, bisa dilihat dari kumpulan kelakuan bule gila di Bali yang saya rangkum di bawah ini.

Bisa saya bilang, kalau mereka melakukan hal gak normal seperti diatas di negara mereka sendiri, sudah pasti mereka kena denda yang besar atau malah bisa masuk penjara. Karena itulah, pas liburan di Indonesia mereka bisa lepas. Kalau kenapa-napa kemungkinan bisa diselesaikan dengan damai atau wani piro.

BACA JUGA :  Mengenal Tags Dan Categories Di WordPress, Apa Bedanya?

Seumur hidup, saya baru kena tilang beberapa kali. Saya mencoba untuk mengikuti peraturan dengan tertib. Meski enggak selalu bisa tertib 100 persen. Tiga kali kena tilang, berakhir dengan salam tempel, karena memang semacam dipaksa untuk berdamai saja. Selalu dibilang akan lebih susah mengurus di pengadilan.

Satu kali kena tilang memang salah saya, kurang taat peraturan, tapi ya berujung dengan salam tempel 20K. Dua kali kena tilang, sebenarnya saya nggak tau salah saya apa, semacam mengada ngada. Saya tantang untuk sidang saja, malah dibujuk buat damai. Ya sudah, karena lagi males saya ikut saja.

Betapa mudah saya mencari celah peraturan karena ada kesempatan dan okmun yang bisa "dibayar".
Betapa mudah saya mencari celah peraturan karena ada kesempatan dan okmun yang bisa “dibayar”.

Lihat kan betapa mudah saya mencari celah peraturan karena ada kesempatan dan okmun yang bisa “dibayar”. Hal seperti itu tidak akan bisa saya lakukan ketika masih di Australia. Gimana mau damai, wong saya saja enggak sadar melakukan kesalahan parkir sembarangan. Tiba-tiba dikasih tau temen ada surat tilang datang beserta informasi kesalahan, dan harus bayar denda berapa. Gak ada kesempatan untuk salam tempel atau minta berdamai. Denda yang dibayar pun langsung masuk kedalam kas negara.

Terakhir hampir kena tilang, ketika saya nyetir mobil di surabaya. Disebutkan kesalahan saya adalah tidak menyalakan lampu sein ketika pindah jalur. Terus, karena saya ragu apakah saya salah atau benar, saya minta untuk lihat CCTV saja ke petugasnya. Kalau saya memang salah, saya akan mengikuti prosedur dengan mengikuti sidang dan membayar denda. Apa yang terjadi? Saya dilepas begitu saja, disuruh jalan. Padahal di Surabaya itu banyak CCTV, salah atau benar saya pasti ketahuan.

Penegakan Peraturan Yang Melempem, Atau Kesadaran Masyarakat Yang Kurang?

Kalau dibilang masyarakat kurang menaati peraturan ya enggak sepenuhnya benar, seperti kutipan status diatas. Kan orang Indonesia bisa tiba-tiba jadi tertib kalau lagi di luar negeri. Sementara kenapa kalau di negara sendiri malah cenderung tidak mentaati peraturan? Bisa jadi memang karena peraturan kurang bisa ditegakkan. Ada banyak faktor yang bisa membuat peraturan ditawar, bisa tebang pilih, dan bisa salam tempel hingga nego wani piro.

BACA JUGA :  Alasan Saya Kembali Tinggal Di Desa, Juga Suka Duka Tinggal Dan Bekerja Dari Desa

Saya sendiri sebenarnya juga bingung, apa yang membuat jadi seperti itu. Namun yang pasti, kalau peraturan serba jelas dan benar-benar ditegakkan, masyarakat itu pasti mau mengikutinya. Apalagi kalau tidak ada yang namanya tebang pilih penegakan peraturan karena melihat siapa dan berapa uang yang dipunya. Singkatnya kalau salah ya dihukum sesuai peratuan yang berlaku. Mau dia pejabat, orang penting atau hanya rakyat biasa.

Mungkin untuk menjadi maju, memang Indonesia harus dipaksa dengan peraturan yang adil. Gak usah jauh jauh, belajar saja dari Singapura yang bisa menjadi negara maju karena memang dipaksa dengan berbagai peraturan yang ketat, demi kebaikan bersama. Jadi bukan membuat peraturan hanya untuk kepentingan sebagian golongan saja. Di Indonesia, sepertinya masih banyak peraturan atau undang undang yang hanya menguntungkan sebagian golongan saja. Makanya, kadang masyarakatnya juga jadi cuek. Toh yang namanya “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” belum benar-benar diterapkan. ( Baca Juga : 5 cara Lee Kuan Yew sulap kemiskinan Singapura jadi negara maju ).

Soal Pelanggaran PSBB, Apakah Karena Masyarakat Indonesia Kurang Disiplin?

Soal Pelanggaran PSBB, Apakah Karena Masyarakat Indonesia Kurang Disiplin?
Soal Pelanggaran PSBB, Apakah Karena Masyarakat Indonesia Kurang Disiplin?

Karena saya menulis ini dimasa pandemi Covid19, jadi saya mau menuliskan opini saya terkait kedisiplinan pada masa PSBB sesuai dengan pernyataan status facebook diatas, yang saya kutip lagi dibawah.

“Soal pelanggaran PSBB itu bukan karena orang Indonesia tidak disiplin, tapi karena tidak jelasnya aturan. Orang dilarang ke mall tapi mall buka, orang dilarang mudik tapi kendaran boleh lewat, bandara dibuka.”

Bisa jadi karena ada celah dalam peraturan, makanya ada masyarakat yang ingin mengakali peraturan tersebut. Beberapa kebijakan memang terlihat bertentangan dengan peraturan selama PSBB, dan bahkan cenderung bisa dimanfaatkan untuk membuat celah peraturan PSBB. Yang bikin saya geleng kepala sih pelarangan mudik, namun Bandara tetap dibuka untuk umum dengan beberapa syarat khusus untuk yang mau terbang.

BACA JUGA :  Tips Asik Bermain Twitter Di Tahun Politik 2019 Yang Kian Memanas!

Sudah jelas orang Indonesia itu banyak yang kreatif, sampai “Surat bebas covid19 dijual secara online di marketplace”. Buat yang belum tahu, surat bebas Covid19 ini diperlukan untuk yang mau terbang dengan pesawat. Ya karena bandara tetap dibuka untuk umum, orang akan mencoba mencari celah peraturan demi bisa terbang. Terutama orang yang punya akses ke dana berlebih, atau orang yang punya kenalan orang dalam.

Intinya, peraturan yang setengah-setengah dan banyak celah itu akan membuat orang mencari segala cara untuk mengakalinya. Coba misalkan Bandara tetap ditutup untuk umum, hanya logistik dan yang bersifat darurat saja bisa terbang. Mau tidak mau, orang akan tetap dirumah saja dan tidak pergi ke bandara. Tapi bagaimana lagi, yang terjadi terjadilah. Karena sepertinya sekarang kondisinya menuju ke arah “New Normal” Indonesia terserah.


fahmi@bloggerpi.com

[email protected]

Penggunaan foto atau pengutipan dari Bloggerpi.com diperbolehkan, asal disertai dengan linkback aktif. Jika ditemukan penggunaan foto atau pengutipan tanpa linkback ke Bloggerpi.com, akan beresiko dihapus oleh google lewat pelaporan DMCA. Bloggerpi.com dilindungi oleh DMCA.
https://catperku.com


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *