Banyak konten saat ini terlihat rapi, informatif, dan “SEO banget”, tetapi sebenarnya masih mudah ditukar dengan artikel lain yang membahas topik sama. Inilah masalah utama commodity content. Di saat Google terus menekankan pentingnya konten yang helpful, reliable, dan people-first, nilai pembeda sebuah artikel bukan lagi sekadar ada keyword-nya, melainkan apakah konten itu benar-benar memberi sesuatu yang unik, spesifik, dan bernilai untuk pembaca.
Dirangkum oleh berbagai sumber oleh Bloggerpi Digital, secara sederhana, commodity content adalah konten yang bisa dibuat hampir siapa saja dengan sudut pandang yang mirip, struktur yang mirip, dan isi yang mirip. Sebaliknya, non-commodity content adalah konten yang membawa pengalaman, analisis, data, contoh, atau sudut pandang yang tidak mudah direplikasi. Dalam rangkuman Search Engine Roundtable atas presentasi Danny Sullivan dari Google Search Central, ciri non-commodity content dijelaskan sebagai unique, specific, dan authentic.
Itulah sebabnya topik ini penting untuk blogger, content writer, SEO specialist, pemilik bisnis, maupun tim marketing. Kalau konten Anda hanya “benar”, tetapi tidak “berbeda”, Google bisa saja menganggapnya tidak memberikan nilai baru yang cukup kuat bagi pengguna. Dalam konteks AI search, risikonya lebih besar lagi: konten generik makin mudah dirangkum, dikompresi, dan tenggelam di balik jawaban instan. Google sendiri menyatakan bahwa praktik SEO yang fundamental tetap relevan untuk AI Overviews dan AI Mode, dan konten yang unique serta valuable tetap penting untuk performa di Search.
Key Takeaways
Apa Itu Commodity Content?
Commodity content adalah konten yang informasinya umum, dangkal, mudah dipertukarkan, dan minim nilai pembeda. Biasanya konten jenis ini menjawab topik hanya di permukaan: definisi umum, tips generik, langkah yang terlalu standar, atau ulangi apa yang sudah banyak ditulis situs lain tanpa kontribusi baru. Kalau sepuluh website menulis isi yang hampir sama, besar kemungkinan salah satunya, atau bahkan semuanya, akan terlihat seperti commodity content.
Ciri paling umum commodity content antara lain:
- hanya merangkum informasi umum yang sudah beredar luas,
- tidak menunjukkan pengalaman nyata atau keahlian praktis,
- tidak memberi contoh spesifik,
- tidak punya opini atau analisis yang jelas,
- mudah ditulis ulang oleh AI atau kompetitor tanpa kehilangan makna utama.
Masalahnya, commodity content bukan selalu berarti “konten jelek”. Kadang tulisannya rapi, heading-nya benar, keyword-nya masuk, bahkan on-page SEO-nya lumayan. Namun karena isi utamanya tidak membawa sesuatu yang baru, artikel semacam ini sulit menjadi pilihan terbaik di mata pengguna maupun mesin pencari. Google secara eksplisit menyarankan creator untuk menilai apakah kontennya benar-benar dibuat untuk membantu orang, bukan sekadar untuk mengejar ranking.
Apa Itu Non-Commodity Content?
Non-commodity content adalah kebalikan dari itu. Konten ini membawa nilai yang tidak gampang dipindahkan atau diduplikasi oleh situs lain. Dalam rangkuman presentasi Danny Sullivan, non-commodity content dijelaskan dengan tiga karakter utama: unique atau membawa sudut pandang/informasi yang tidak mudah ditiru, specific atau membahas kasus/situasi yang konkret, dan authentic atau menunjukkan pengalaman serta keahlian langsung.
Kalau diterjemahkan ke praktik sehari-hari, non-commodity content biasanya memiliki satu atau beberapa elemen berikut:
- pengalaman lapangan,
- studi kasus,
- data internal,
- eksperimen,
- opini ahli yang jelas,
- contoh nyata dari klien, proyek, atau workflow,
- insight yang lahir dari praktik, bukan sekadar hasil kompilasi.
Karena itu, non-commodity content sangat dekat dengan prinsip konten helpful, reliable, dan people-first. Google juga menyebut bahwa untuk tampil di AI features seperti AI Overviews dan AI Mode, Anda tidak memerlukan markup khusus atau file AI khusus; yang dibutuhkan tetap fondasi SEO yang baik dan konten yang benar-benar membantu.
You can, and should, create both types. And in fact, there is a need for both fresh commodity and non-commodity content.
Google is commoditising the most popular searches, it can be inferred. Don’t build a thin business on commodity content, and you won’t be CCU’d in the future… https://t.co/h2MaQIB06L
— Shaun Anderson (@Hobo_Web) April 23, 2026
Commodity Content vs Non-Commodity Content
Ringkasnya, perbedaan keduanya bisa dilihat seperti ini.
| Aspek | Commodity Content | Non-Commodity Content |
|---|---|---|
| Nilai utama | Informasi umum | Informasi + insight + pembeda |
| Sudut pandang | Netral dan generik | Jelas, spesifik, kontekstual |
| Kedalaman | Permukaan | Mendalam dan fokus |
| Sumber isi | Kompilasi dari banyak artikel serupa | Pengalaman, data, analisis, studi kasus |
| Kemudahan ditiru | Sangat mudah | Lebih sulit direplikasi |
| Peluang bertahan di era AI search | Cenderung lemah | Lebih kuat |
| Dampak untuk brand | Sulit membangun otoritas | Membantu membangun trust dan authority |
Perlu dicatat, non-commodity content bukan berarti harus selalu panjang atau rumit. Artikel pendek pun bisa menjadi non-commodity kalau sangat spesifik, sangat relevan, dan memberi insight yang tidak tersedia di tempat lain. Sebaliknya, artikel 2.000 kata tetap bisa menjadi commodity content bila isinya hanya pengulangan versi panjang dari hal-hal yang sudah diketahui semua orang.
Kenapa Topik Ini Makin Penting di Era AI Search?
Google menjelaskan bahwa AI Overviews dan AI Mode membantu pengguna memahami topik kompleks, melakukan eksplorasi, dan membandingkan opsi dengan lebih cepat. Sistem ini bisa memakai teknik “query fan-out”, yaitu menjalankan beberapa pencarian terkait lintas subtopik dan sumber data untuk menyusun jawaban yang komprehensif. Itu berarti konten yang hanya mengulang pengetahuan umum akan makin mudah tersisih, karena sistem bisa menemukan banyak versi serupa sekaligus.
Di sisi lain, Google juga menegaskan bahwa tidak ada optimasi teknis khusus untuk AI Overviews atau AI Mode. Praktik SEO yang sama tetap berlaku: halaman harus bisa diindeks, konten harus helpful, dan situs perlu memiliki internal link yang baik, pengalaman halaman yang baik, serta informasi utama yang tersedia dalam bentuk teks. Dengan kata lain, fondasi teknis tetap penting, tetapi kualitas dan keunikan isi tetap menjadi faktor pembeda.
Bagi pemilik blog atau website bisnis, ini berarti strategi konten tidak bisa berhenti di “cari keyword lalu tulis artikel”. Anda tetap perlu riset kata kunci, search intent, dan struktur on-page. Namun setelah itu, Anda harus bertanya: “Apa yang membuat artikel saya layak diklik, dibaca, dan diingat?” Google sendiri menyarankan creator memikirkan siapa yang membuat konten, bagaimana konten dibuat, dan mengapa konten tersebut dibuat.
Contoh Commodity Content dan Versi Non-Commodity-Nya
Agar lebih mudah dipahami, berikut beberapa contoh sederhana.
Contoh 1: Topik SEO
Versi commodity:
“10 Tips SEO untuk Website Baru”
Judul seperti ini umum sekali. Biasanya isinya juga bisa ditebak: riset keyword, optimasi title tag, bikin backlink, dan seterusnya. Bukan salah, tetapi sangat mudah tergantikan.
Versi non-commodity:
“7 Kesalahan SEO yang Saya Temukan Saat Audit Website UMKM dan Cara Memperbaikinya”
Versi ini lebih kuat karena:
- ada konteks nyata,
- ada pengalaman langsung,
- ada target pembaca yang spesifik,
- ada peluang memberi contoh yang benar-benar membantu.
Contoh 2: Topik Content Writing
Versi commodity:
“Cara Menulis Artikel SEO-Friendly”
Versi non-commodity:
“Cara Saya Mengubah Draft Generik Menjadi Artikel SEO-Friendly yang Lebih Layak Ranking”
Versi kedua membuka ruang untuk menjelaskan proses, checklist edit, before-after, dan alasan editorial yang konkret.
Contoh 3: Topik Kalender Konten
Versi commodity:
“Apa Itu Kalender Konten?”
Versi non-commodity:
“Template Kalender Konten yang Saya Pakai untuk Merencanakan 30 Ide Artikel Tanpa Kehabisan Topik”
Di sini pembaca tidak hanya mendapat definisi, tetapi juga konteks penggunaan yang lebih praktis.
Cara Mengubah Commodity Content Menjadi Non-Commodity Content
1. Mulai dari search intent, tetapi jangan berhenti di sana
Riset keyword tetap penting karena membantu Anda memahami bahasa yang dipakai pengguna dan topik yang mereka cari. Namun keyword hanyalah pintu masuk. Setelah tahu keyword utamanya, Anda perlu memperjelas intent, masalah pengguna, dan jenis jawaban yang paling dibutuhkan. Untuk fondasi ini, Anda bisa memperdalamnya lewat panduan cara membuat artikel SEO-friendly dan tips membuat artikel yang ramah SEO untuk content marketing.
2. Persempit sudut bahasan
Topik yang terlalu lebar cenderung menghasilkan tulisan generik. Semakin spesifik konteksnya, semakin besar peluang artikel Anda menjadi non-commodity. Misalnya, daripada menulis “cara optimasi SEO”, Anda bisa menulis “cara optimasi SEO on-page untuk artikel jasa” atau “cara optimasi SEO untuk website UMKM yang baru tayang 3 bulan”. Spesifik bukan berarti sempit; spesifik berarti relevan dan jelas siapa yang dibantu.
3. Tambahkan pengalaman, observasi, atau workflow nyata
Ini salah satu pembeda terkuat. Anda tidak harus punya data raksasa. Hal sederhana seperti pengalaman audit, pola kesalahan yang sering muncul, template kerja, atau keputusan editorial yang Anda ambil sudah bisa memberi nilai tambah. Bila Anda menulis topik content writing, pembaca juga akan terbantu jika Anda menjelaskan skill dan proses kerja seorang SEO content writer atau syarat menjadi SEO content writer.
4. Tunjukkan “mengapa” di balik rekomendasi Anda
Banyak artikel berhenti di level instruksi: lakukan ini, lakukan itu. Non-commodity content biasanya melangkah lebih jauh dengan menjelaskan mengapa sebuah langkah penting, kapan langkah itu efektif, dan kapan tidak. Pendekatan ini membuat konten terasa lebih ahli dan tidak seperti hasil kompilasi. Google sendiri menekankan pentingnya konten yang benar-benar membantu orang memahami topik secara lebih baik.
5. Perkuat dengan on-page SEO yang benar
Konten yang unik tetap butuh struktur teknis yang rapi. Judul, meta description, heading, internal link, URL, dan pengalaman halaman tetap memengaruhi keterbacaan maupun discoverability. Untuk ini, Anda bisa menghubungkan pembaca ke artikel 10 Elemen Kunci dari SEO On-Page, strategi SEO on-page terbaik beserta contoh, atau contoh penerapan optimasi SEO on-page. Google juga menyebut internal linking sebagai salah satu best practice yang tetap relevan untuk AI features di Search.
6. Gunakan data atau alat riset untuk memperkaya sudut pandang
Kalau Anda ingin konten lebih kuat secara editorial, sertakan data dari alat riset, pertanyaan yang sering muncul di SERP, pola query, atau gap kompetitor. Untuk tahap ini, Anda bisa memakai Google Keyword Planner dan menyusun brief lebih rapi dengan content brief template. Jika workflow Anda berbasis planning, artikel tentang apa itu kalender konten dan contoh kalender konten juga relevan untuk mendukung proses produksi.
Checklist: Apakah Artikel Anda Masih Commodity Content?
Gunakan pertanyaan berikut sebelum publish:
- Apakah artikel ini bisa ditulis hampir sama oleh 20 website lain?
- Apakah saya hanya mengulang definisi umum?
- Apakah ada contoh nyata yang benar-benar membantu pembaca?
- Apakah ada opini, analisis, atau pengalaman yang membuat artikel ini punya ciri khas?
- Apakah pembaca akan mendapat sesuatu yang tidak mereka dapat dari ringkasan AI biasa?
- Apakah judul saya terlalu lebar dan generik?
- Apakah artikel ini menunjukkan siapa yang menulis, bagaimana dibuat, dan mengapa rekomendasinya layak dipercaya?
Kalau sebagian besar jawabannya “belum”, berarti artikel Anda masih berisiko menjadi commodity content.
Strategi Praktis untuk Blogger dan Website Bisnis
Kalau Anda mengelola blog sendiri, jangan buru-buru mengejar volume artikel sebelum punya framework kualitas. Lebih baik menerbitkan 4 artikel yang spesifik, punya insight, dan saling terhubung secara internal daripada 20 artikel generik yang isinya mirip semua. Untuk website bisnis, fokuskan setiap artikel pada pertanyaan yang benar-benar datang dari calon pelanggan, lalu jawab dengan pengalaman, proses kerja, dan konteks yang Anda miliki. Pendekatan ini lebih dekat dengan people-first content sekaligus membantu membangun otoritas topikal.
Bila Anda memakai AI untuk membantu drafting, posisikan AI sebagai alat percepatan, bukan sumber nilai utama. Google sudah menjelaskan bahwa yang penting bukan apakah Anda memakai AI atau tidak, melainkan apakah hasil akhirnya membantu pengguna dan menunjukkan kualitas yang layak. Jadi, AI bisa mempercepat outline, riset awal, atau perapian bahasa, tetapi lapisan insight, pengalaman, dan pengambilan keputusan editorial tetap harus datang dari Anda.
—
Commodity content masih bisa membawa trafik sesekali, tetapi makin sulit menjadi aset jangka panjang. Di era ketika AI dapat merangkum informasi umum dengan cepat, konten yang paling berharga adalah konten yang punya sudut pandang, konteks, pengalaman, dan nilai tambah yang tidak mudah ditiru. Itulah inti non-commodity content.
Kalau Anda ingin artikel yang lebih kuat untuk SEO dan lebih tahan terhadap kompetisi di AI search, jangan hanya bertanya “keyword apa yang harus saya target?”. Tanyakan juga, “apa yang hanya bisa saya jelaskan dengan baik?” Dari situlah biasanya konten yang benar-benar layak dibaca mulai terbentuk.
Referensi:
- Google. “Creating Helpful, Reliable, People-First Content.” Google Search Central. Accessed April 24, 2026. (Google for Developers)
- Google. “SEO Starter Guide: The Basics.” Google Search Central. Accessed April 24, 2026. (Google for Developers)
- Google. “Top Ways to Ensure Your Content Performs Well in Google’s AI Experiences on Search.” Google Search Central Blog. Accessed April 24, 2026. (Google for Developers)
- Google. “AI Features and Your Website.” Google Search Central. Accessed April 24, 2026. (Google for Developers)
- Search Engine Roundtable. “Google On Not Publishing Commodity Content.” Search Engine Roundtable. Accessed April 24, 2026. (Search Engine Roundtable)
- Hobo. “What Is Non-Commodity Content? Meet The New Helpful Content.” Hobo Web. Accessed April 24, 2026. (Hobo)
